Profil & Sejarah Paroki

Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong berawal dari suatu stasi dari Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral. Sebagai suatu stasi yang terdiri dari 14 keluarga Katolik, pada mulanya umat hanya beribadat dalam satu rumah kayu di Jl. Gotong-Gotong (sekarang bernama Jl. S. Limboto) Lr. 53 No. 42, sehingga stasi ini lalu dinamakan Stasi Gotong-Gotong. Karena jumlah umat semakin bertambah, pada tahun 1950 P. Jules Verdumen CICM mulai merintis pembangunan suatu gedung gereja kecil yang terletak di Jl. Gotong-Gotong No. 48. Berhubung ada cukup banyak anak-anak kecil dalam lingkungan Stasi Gotong-Gotong, pada tahun 1956 mulai dirintis pula pembangunan suatu gedung sekolah dasar yang terletak di Jl. Maradekayya (sekarang bernama Jl. G. Latimojong) No. 118. Gedung sekolah dasar ini terdiri dari 2 bagian, yaitu 1 khusus untuk anak-anak laki-laki yang diberi nama SD St. Aloysius dan 1 lagi khusus untuk anak-anak perempuan yang diberi nama SD Beringin (karena ada pohon beringin besar di halamannya). Tetapi seriring dengan perkembangan emansipasi wanita dan kesetaraan gender, pengkhususan tersebut kemudian dihapuskan, sehingga ke-2 SD tersebut mulai menerima baik anak-anak laki-laki maupun anak-anak perempuan. Karena sering terjadi persaingan penerimaan murid baru, SD St. Aloysius kemudian dipindahkan ke wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi Panakkukang (Jl. Hertasning 102), sehingga sekarang hanya tinggal SD Beringan saja yang tetap ada di Jl. G. Latimojong 118.

Berhubung dari tahun ke tahun jumlah umat Stasi Gotong-Gotong semakin bertambah, maka pada tgl. 1 Juli 1956 Stasi Gotong-Gotong mulai ditingkatkan statusnya menjadi suatu paroki mandiri, lepas dari paroki induk, Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral. Oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. Nicholaus Marthinus Schneiders CICM, paroki baru ini diberi nama Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong. Jadi Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong ini adalah paroki tertua kelima di kota Makassar, setelah Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral (6 Maret 1892), Paroki Kristus Raja Andalas (16 Oktober 1939), Paroki St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga Mamajang (1 November 1948), dan Paroki St. Yakobus Mariso (1 Juli 1950). Karena gedung gereja kecil di Jl. Gotong-Gotong tidak dapat lagi menampung jumlah umat yang semakin bertambah banyak, pada tahun 1960 P. Gerard Heynen CICM mulai merintis pembangunan gedung gereja besar di Jl. Maradekayya No. 114. Seperti tertulis pada prasasti di dinding kanan pintu masuk, gedung gereja Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong ini diberkati dan diresmikan pemakaiannya oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. Nicholaus Marthinus Schneiders CICM, pada tgl 15 Juli 1962. Dengan demikian, sejak saat itu secara resmi pula umat mulai menggunakan gedung baru itu sebagai tempat ibadatnya, menggantikan gedung lama di Jl. Gotong-Gotong yang dijual kepada Gereja Kemah Injil Jemaat Pharousia Kibaid pada tahun 1963.

Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong sekarang telah meliputi 3 kecamatan di Kota Makassar, yaitu Kecamatan Ujung Pandang, Kecamatan Makassar dan Kecamatan Rappocini. Di sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral (batas: Jl. Jend. Sudirman), di sebelah Timur berbatasan dengan Paroki St. Fransiskus Assisi Panakkukang (batas: Jl. A.P. Pettarani), di sebelah Utara berbatasan dengan Paroki Kristus Raja Andalas (batas: Jl. G. Bawakaraeng), dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Paroki St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga Mamajang (batas: Jl. W. Monginsidi). Wilayah pelayanan pastoral Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong dibagi menjadi 6, yaitu Wilayah I yang meliputi 3 rukun (Rukun St. Petrus, Rukun St. Andreas, dan Rukun Yesus Maria Yosef); Wilayah II yang meliputi 3 rukun (Rukun Benteng Daud Benteng Gading, Rukun St. Yohanes Pemandi, dan Rukun St. Theresia); Wilayah III yang meliputi 3 rukun (Rukun Keluarga Kudus, Rukun St. Fransiskus Xaverius, dan Rukun St. Bernadeth); Wilayah IV yang meliputi 4 rukun (Rukun St. Maria, Rukun St. Yakobus, Rukun Hati Kudus, dan Rukun St. Elisabeth); Wilayah V yang meliputi 3 rukun (Rukun St. Yosef dan St. Paulus, Rukun St. Don Bosco, dan Rukun Bintang Timur); dan Wilayah VI yang meliputi 3 rukun (Rukun St. Maria dari Fatima, Rukun Bejana Rohani, dan Rukun St. Maria Immaculata). Jadi setiap wilayah terdiri dari rata-rata 3 rukun, kecuali Wilayah IV yang terdiri dari 4 rukun. Dengan kata lain, Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong memiliki 6 wilayah dan 19 rukun. Perlu diketahui pula bahwa Paroki St. Fransiskus Assisi Panakkukang dahulu adalah suatu stasi dari Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong, yang kemudian dimekarkan menjadi paroki mandiri pada tgl. 22 Maret 1986.

Jumlah umat yang semakin bertambah banyak dari tahun ke tahun membutuhkan berbagai tempat pembinaan, sehingga secara bertahap mulai dirintis pembangunan berbagai gedung tempat pembinaan. Pada tahun 1983 P. Jos van Rooy CICM mulai membangun gedung taman kanak-kanak dan gedung aula serba guna. Gedung taman kanak-kanak ini diberi nama TK St. Joseph yang diberkati dan diresmikan penggunaannya oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans van Roessel CICM, pada tgl. 28 April 1984. Sedangkan gedung aula serba guna ini diberi nama Aula Serba Guna St. Joseph yang diberkati dan diresmikan penggunaannya oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans van Roessel CICM, pada tgl. 24 Februari 1985. Berhubung gedung pastoran lama sudah tidak memadai lagi, pada tahun 1987 P. Maris Marannu Pr. membangun gedung pastoran baru yang diberkati dan diresmikan penggunaannya oleh P. Maris Marannu Pr. sendiri pada tgl. 8 Desember 1998. Dan berhubung gedung aula serba guna lama yang berlantai 1 tidak memadai lagi, pada tahun 2009 P. Hendrik Njiolah Pr. membangun gedung aula serba guna baru berlantai 3 yang diberkati dan diresmikan penggunaannya oleh P. Hendrik Njiolah Pr. sendiri pada tgl. 2 Juni 2011.

Dari tahun ke tahun jumlah umat Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong semakin bertambah banyak, sehingga gedung gereja tidak dapat menampung lagi semua umat yang datang untuk beribadat. Maka sejak tahun 2003 gedung gereja sudah beberapa kali diperluas dengan membobol dinding kiri dan kanan gedung gereja, serta menambah kanopi di depan dan di samping kiri gedung gereja. Perluasan gedung gereja dengan berbagai perubahan ini mengakibatkan tampak luar dan dalam gedung gereja tidak seindah dulu lagi. Tetapi dalam hal ini Dewan Pastoral Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong harus memilih 1 di antara 2 pilihan, yaitu tetap mempertahankan bentuk awal gedung gereja yang tidak dapat lagi menampung jumlah umat, atau memperluas gedung gereja agar dapat menampung jumlah umat dengan akibat mengurangi keindahan gedung gereja. Setelah mempertimbangkan untung rugi ke-2 pilihan, pada akhirnya Depas Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong memutuskan untuk memperluas gedung gereja agar dapat menampung jumlah umat yang semakin hari semakin bertambah banyak. Akan tetapi walaupun gedung gereja sudah beberapa kali diperluas, namun ternyata gedung gereja belum juga dapat menampung semua umat yang datang untuk beribadat pada setiap hari Sabtu dan Minggu. Pertambahan jumlah umat ini tidak hanya disebabkan oleh pertambahan orang yang dibaptis, tetapi juga disebabkan oleh pertambahan umat yang datang dari paroki lain. Betapa banyak umat yang datang untuk beribadat, sehingga umat terpaksa terbagi 2, yaitu sebagian duduk di dalam gedung gereja dan sebagian lagi duduk di dalam aula serba guna, bahkan sering ada pula sebagian terpaksa berdiri saja di luar gedung gereja. Maklum, umat yang awalnya (tahun 1950) hanya terdiri dari 14 keluarga Katolik saja, sekarang (tahun 2016) telah bertambah menjadi 700 keluarga Katolik. Di samping masalah tempat ibadat untuk umat, timbul pula masalah tempat parkir untuk kendaraan. Seiring dengan bertambahnya jumlah umat yang membutuhkan tempat ibadat, bertambah pulalah jumlah kendaraan yang membutuhkan tempat parkir. Pada setiap hari Sabtu dan Minggu, sepanjang Jl. G. Latimojong mulai dari Jl. G. Nona sampai Jl. S. Limboto, bahkan kadang melewati Jl. S. Limboto, sudah penuh dengan kendaraan yang diparkir 2 lapis di pinggir jalan raya, sehingga sering menimbulkan kemacetan luar biasa. Untuk menanggulangi ke-2 masalah faktual ini, pada tahun 2013 Depas Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong mulai merintis lagi pembangunan gedung gereja baru yang berlantai 3, sehingga nanti tidak hanya dapat menampung semakin banyak umat di lantai 2 dan 3, tetapi juga dapat menampung lebih banyak kendaraan di lantai 1. Jadi berdasarkan sejarah perkembangan Paroki St. Joseph Pekerja (Gotong-Gotong) dari awal sampai sekarang, dapat disimpulkan bahwa pembangunan berbagai macam gedung (gereja, sekolah, aula, pastoran) seluruhnya demi kepentingan umat. Semua gedung dibangun untuk memenuhi kebutuhan faktual umat yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Sejak 1 Juli 1956 sampai sekarang, sudah banyak sekali pastor (baik sebagai pastor paroki maupun sebagai pastor bantu) yang pernah bertugas melayani umat di Paroki St. Joseph Pekerja (Gotong-Gotong). Mereka adalah:

  1. P. Gerard Heynen CICM selaku pastor paroki periode 1956-1963 yang dibantu oleh: P. Paul Bressers CICM, P. A. van der Krabben CICM, P. Michel Mingneau CICM, P. Tjerd Berkenbosch CICM, P. de Fever CICM, P. Jeff Henderyck CICM, P. Theo Heurkens CICM, P. Leo Blot CICM, P. Harry Kwaspen CICM, P. Jan van Eerenbeemt CICM, P. A. Vloebergh CICM, P. Jeff Hauben CICM, P. Frans van Roessel CICM, dan P. Raymond Stock CICM.
  2. P. Harry Kwaspen selalu pastor paroki periode 1963-1973 yang dibantu oleh: P. Willi Duma PR, P. Frans van Roessel CICM, P. Jan van Eerenbeemt CICM, P. A. Vloebergh CICM, P. G. van Schie CICM, P. A. Godefrooy CICM, P. C. Meerendonk CICM, P. Joss Cobbe CICM, dan P. Maris Marannu PR.
  3. P. Jose L. Saplala CICM selaku pastor paroki periode 1974-1979 yang dibantu oleh: P. Isidorus Rumpu Kaniu PR, P. Andy Altamirano CICM, dan P. Michel Mingneau CICM.
  4. P. Adrian van Rooy CICM selaku pastor paroki periode 1979-1990 yang dibantu oleh: P. Lambertus Lagaoor PR, P. Michel Mingneau CICM, P. Marc van der Berghe CICM, P. Kees Brouwer CICM, P. Theo Heurkens CICM, P. Piet Lomena PR, P. Arie Maitimo PR, dan P. Jan van Empel CICM.
  5. P. Maris Marannu PR selaku pastor paroki periode 1990-2003.
  6. P. Hendrik Njiolah PR selalu pastor paroki periode 2003-2016 yang dibantu oleh: P. Marthinus Mattani PR, P. John Turing Datang PR, P. Agus Pare Tikupasang PR, P. Gregorius Valens Mariang PR, dan P. Vius Octavianus PR.
  7. P. Frans Nipa PR selaku pastor paroki periode 2017 sampai sekarang yang dibantu oleh: P. Vius Octavianus PR

Demikianlah sejarah singkat dari Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong Makassar sejak tahun 1950 sampai tahun 2016 ini, yang berhasil dikumpulkan dari berbagai sumber terpercaya sehingga dapat dijamin kebenarannya. Semoga berguna sebagai informasi tambahan bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah perkembangan Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong Makassar ini. Moga-moga Tuhan tetap memberkati Paroki St. Joseph Pekerja Gotong-Gotong Makassar, agar terus dapat berkembang dengan baik dari tahun ke tahun. Amin.